Kalimat Sempurna

25 Januari 2010

Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut dengan jumlah dan kalimat sempurna disebut dengan jumlah mufidah. Sedangkan jumlah sendiri merupakan susunan dari beberapa kalimah [baca: kata] yang melahirkan makna atau pesan yang sempurna.

Terdapat dua [2] bentuk jumlah. Bentuk pertama, jumlah ismiyah. Bentuk kedua, jumlah fi’liyah. Berikut ini adalah contoh masing-masing jumlah dan penjelasannya.

Penjelasan:

[1] Jumlah Ismiyah
Adalah kalimat sempurna yang diawali dengan ism. Model struktur paling sederhana untuk jumlah ismiyah adalah:

ism [: sebagai mubtada’] + ism [: sebagai khabar]

[2] Jumlah Fi’iliyah
Adalah kalimat sempurna yang diawali dengan fi’il. Model struktur paling sederhana untuk jumlah fi’liyah adalah:

fi’il[kata kerja] +  fa’il [:pelaku]  atau
fi’il [kata kerja] +  fa’il [:pelaku] + maf’ul bih [obyek]

Pendalaman materi tentang  jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah ada pada pelajaran lebih lanjut dalam babnya masing-masing, insyaallah.


Kata dan Jenis-jenisnya

23 Januari 2010

Kata dalam bahasa Arab disebut kalimah. Ia adalah lafal yang tersusun dari beberapa huruf hijaiyah dan mempunyai arti. Jika terdapat lafal yang tersusun dari beberapa huruf hijaiyah namun tidak memiliki arti tidak disebut  kalimah. Namun, terkadang ada kalimah yang hanya terdiri dari satu huruf hijaiyyah saja.

Dalam bahasa Arab, kalimah terbagi dalam tiga [3] jenis. Pertama, ism. Kedua, fi’il. Ketiga, harf. Berikut ini  contoh-contoh kalimah dan penjelasannya:

Penjelasan:

[1] Ism
Secara bahasa ism berarti nama. Dalam kaidah bahasa Arab, ism difahami sebagai kalimah yang digunakan untuk menamai sesuatu, apa pun sesuatu tersebut baik abstrak maupun konkrit.

Biasanya untuk menyederhanakan pemahaman, kalimah ism diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai kata benda. Terjemahan ini kurang tepat karena terlalu menyederhanakan cakupan ism.

[2] Fi’il
Adalah kalimah yang menunjukkan terjadinya suatu pekerjaan dalam waktu tertentu [telah, sedang, akan]. Guna menyederhanakan pemehaman, biasanya fi’il diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai kata kerja. Perlu diingat bahwa semua kalimah fi’il selalu mempunyai penjelasan waktu terjadinya baik itu telah, sedang, atau akan.

Bila terdapat kalimah dengan arti pekerjaan namun tidak ada penjelasan waktunya, ia tentulah bukan fi’il. Sebagai penjelas, perhatikan dua contoh kalimat [dalam bahasa Indonesia] berikut ini:

  1. Saya sedang berdiri. [berdiri pada kalimat ini adalah fi’il karena ada kaitan dengan waktu]
  2. Berdiri itu memelahkan. [berdiri pada kalimat ini bukan fi’il karena tidak ada penjelasan waktunya, meskipun memiliki arti kerja]

[3] Harf
Harf bukan ism dan juga bukan fi’il. Ia adalah kalimah yang artinya belum jelas kecuali bila tersusun bersama-sama dengan kalimah yang lain.  Bukan berarti  kalimah harf tidak memiliki arti. Jenis kalimah ini sudah memiliki arti, hanya saja artinya akan jelas mana kala ia berada dalam dalam sutau susunan bahasa.

Jenis kalimah ini mirip dengan preposisi dalam bahasa Inggris. Maaf, Sekolah Bahasa Arab belum menemukan padanan kata yang tepat untuk harf dalam bahasa Indonesia.


Komponen Dasar Bahasa Arab

18 Januari 2010

Terdapat tiga komponen penting dalam bahasa Arab yaitu: huruf, kata dan kalimat. Untuk dapat berbahasa Arab secara fasih, seseorang harus menguasai ketiga-tiganya.

Pertama, Huruf
Setiap bahasa memiliki huruf. Ia merupakan komponen terkecil dari suatu bahasa. Karena setiap bahasa tumbuh dengan keunikannya masing-masing, maka setiap bahasa memiliki huruf yang mempunyai ciri khas tersendiri baik dari cara pengucapannya maupun lambang penulisannya. Huruf yang digunakan oleh bahasa Arab adalah huruf hijaiyah. Jumlahnya ada 28 huruf.

Untuk mengetahui dan menghafal nama-nama huruf ini, Sekolah Bahasa Arab telah menyampaikan tutorial dalam kolom anak-anak. Lebih lanjut klik di sini.

Penguasaan terhadap huruf hijaiyah bukan sekedar dengan mengenal namanya. Dalam ragam lisan, dibutuhkan penguasaan makharijul huruf [membunyikan: mengeluarkan huruf dari tempat keluarnya]. Dalam ragam tulisan, dibutuhkan penguasaan menulis huruf per huruf dengan cara penulisan yang benar.

Untuk latihan makharijul huruf, Sekolah Bahasa Arab telah menyampaikan tutorial dalam ragam lisan. Lebih lanjut klik di sini. Untuk latihan menulis, Sekolah Bahasa Arab telah menyampaikan tutorial dalam ragam tulis. Lebih lanjut klik di sini.

Kedua, Kata
Dalam bahasa Arab istilah kata, disebut dengan kalimah. Lazimnya, diartikan sebagai lafal yang tersusun dari beberapa huruf hijaiyah. Walau pun kerapkali dimaknai sebagai susunan dari beberapa huruf, namun terdapat beberapa kalimah yang hanya terdiri dari satu huruf hijaiyah saja, misalnya wawu yang berarti ‘dan’ pada ungkapan wallaahu a’lam [dan Allah yang paling tahu], atau wawu yang berarti ‘sumpah’ pada ungkapan wallaahi [demi Allah].

Penguasaan komponen ini, dalam ragam lisan, menuntut adanya penguasaan beberapa hal seperti kemampuan membedakan ‘al’ qamariyah dan ‘al’ syamsiyah, membedakan ta’ maftuhah dan ta’ marbuthah, dll.

Sedangkan dalam ragam tulisan menuntut adanya penguasaan cara menulis kalimah dalam bentuk menyambung huruf hijaiyah secara benar. Perlu diketahui, bahwa huruf-huruf hijaiyah memiliki bentuknya sendiri-sendiri dalam sebuah susunan, tergantung apakah ia berada di depan, di tengah, atau di akhir sebuah kalimah.

Untuk latihan menyambung huruf, Sekolah Bahasa Arab telah menyampaikan tutorial dalam ragam tulis. Lebih lanjut klik di sini.

Ketiga, Kalimat
Dalam bahasa Arab istilah kalimat, disebut dengan jumlah. Merupakan susunan dari beberapa kata [baca: kalimat dalam bahasa Arab] yang melahirkan makna atau pesan baru yang sempurna. Penguasaan komponen ini, baik dalam ragam lisan maupun tulisan, sangat tergantung pada penguasan tatabahasa [qawaid luqhawiyah]


Dua Konsep Yang Berbeda

8 Januari 2010

Dalam tutorial bahasa Arab,  terdapat dua konsep yang bebeda. Pertama, mempelajari bahasa. Kedua, belajar bahasa.

Sekilas, dua hal tersebut tampak sama dan tidak berbeda. Namun, bila diamati lebih detil, terdapat perbedaan yang jelas. Perbedaan ini terlihat dalam proses dan out put-nya. Artinya, mempelajari bahasa Arab memiliki metode dan kurikulum tersendiri, demikian juga dengan belajar bahasa Arab, ia pun memiliki metode dan kurikulum khas. Tentu, capaian keduanya pun berbeda.

Mempelajari suatu bahasa berarti mempelajari seluk-beluk bahasa tersebut, seperti sejarah, tata bahasa, dan seluruh pernak-pernik yang terkait dengannya secara keilmuan. Konsep ini menitikberatkan pada proses transformasi pengetahuan yang bersifat kognitif. Hasil akhir dari konsep ini adalah penguasaan ilmu-ilmu bahasa dan bukan ketrampilan berbahasa. Sedangkan, belajar bahasa adalah berlatih bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Konsep ini menitikberatkan pada latihan dan penguasaan ketrampilan berbahasa yang bersifat psikomotor. Hasil akhir dari proses ini adalah ketrampilan berbahasa.

Tak jarang, ada yang sudah bertahun-tahun mempelajari bahasa Arab namun tak kunjung bisa berkomunikasi dengan bahasa tersebut baik secara lisan maupun tulisan, kendati telah mengerti, faham dan hafal kaidah-kaidah bahasa di luar kepala. Bisa jadi selama ini, dalam tutorialnya, ia menerapkan konsep mempelajari bahasa Arab, bukan belajar bahasa Arab.


Ketrampilan Bahasa Arab

8 Januari 2010

Dalam bahasa Arab terdapat empat keterampilan dasar berbahasa yaitu menyimak [mahārat istimā’], berbicara [mahārat kalām], menulis [mahārat kitābat], dan membaca [mahārat qirā’at]. Menyimak dan berbicara adalah dua ketrampilan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab dalam ranah lisan sedangkan membaca dan menulis adalah dua ketrampilan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab dalam ranah tulisan.

Mengamati perilaku pengguna Bahasa Arab dalam proses memperoleh ketampilan berbahasa, secara umum, dapat diurutkan sebagai berikut:

[1] Ketrampilan Menyimak [Mahārat Istimā’]
Merupakan suatu proses mendengarkan bahasa lisan dengan perhatian, pemahaman dan apresiatif. Keterampilan ini adalah kegiatan yang paling awal dilakukan oleh manusia, dalam semua bahasa, dalam proses memperoleh ketrampilan berbahasa. Anak kecil sebelum memiliki ketrampilan berbicara dengan bahasa tertentu ia memulai proses memperoleh ketrampilan berbahasanya dengan menyimak; mendengarkan pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Dari proses ini ia memperoleh ketrampilan berbahasa selanjutnya, yaitu berbicara.

[2] Ketrampilan Berbicara [Mahārat Kalām]
Merupakan suatu proses penyampaian pesan dari sumber kepada penerima melalui media bahasa. Ketrampilan ini adalah buah dari ketrampilan menyimak yang terus-menerus, diulang-ulang dan ditirukan. Awalnya adalah proses mendengar, mengulang dan menirukan orang lain berbicara, sebagaimana yang ia simak, dan akhirnya adalah ketrampilan berbicara. Karena itulah anak yang lahir dan tumbuh di tengah-tengah pengguna bahasa Arab akan fasih berbicara bahasa Arab. Kendati anak tersebut belum mengenal baca dan tulis. Ini terjadi karena setiap saat ia mendengar orang-orang disekitarnya berkomunikasi dengan bahasa tersebut, termasuk dengan dirinya.

Itulah makanya setiap orang memiliki bahasa ibu. Pada umumnya anak kecil sudah fasih berbicara dengan bahasa ibunya sebelum terampil membaca dan menulis. Kelak ketika masuk TK ia baru mulai belajar membaca dan menulis. Dan ketika sudah masuk di bangku SD, ia akan belajar ilmu tata bahasa. Begitu seterusnya.

[3] Ketrampilan Membaca [Mahārat Qirā’at]
Dalam proses memperoleh ketrampilan berbahasa, setelah mampu berbicara, pada umumnya seorang anak akan membaca terlebih dulu, baru kemudian menulis. Bukan sebaliknya, menulis kemudian membaca.

Ketrampilan membaca ini berwujud kegiatan memperoleh makna dari berbagai gabungan huruf. Kegiatan ini dimulai dari mengenal lambang bunyi [huruf], kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan wacana, serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya. Secara bertahap proses memperoleh ketrampilan membaca membutuhkan ilmu-ilmu alat bahasa seperti ashwat, nahwu, sharf dan lain-lain.

[4] Ketrampilan Menulis [Mahārat Kitābat]
Merupakan kegiatan menuangkan pikiran, ide, gagasan melalui rangkaian huruf yang menjadi kata yang kemudian disusun menjadi sebuah kalimat yang utuh. Menulis adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut. Ketrampilan ini dimulai dari menulis huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan karangan. Sebagaimana ketrampilan membaca, secara bertahap proses memperoleh ketrampilan menulis juga membutuhkan ilmu-ilmu alat bahasa seperti khat, imla, nahwu, sharf dan lain-lain.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.